Mengapa Tidak Ada Sahur On The Road di Ramadhan Kali Ini

 

Sahur on the road atau SOTR adalah aktivitas sahur dimana dilakukan di jalanan dengan memberikan makanan ke tunawisma misalnya yang ada di emperan toko. Akan tetapi, beberapa tahun belakangan ini tidak ada aktivitas tersebut karena tidak diperbolehkan oleh kepolisian. Di Jakarta sendiri, aktivitas yang dilaksanakan pada pagi hari yaitu saat sahur tersebut jelas dilarang karena beberapa hal dan sebagai gantinya dilaksanakan sahur on the mosque.

Larangan dilaksanakannya sahur di jalanan tersebut untuk di daerah Jakarta sendiri disampaikan sendiri oleh Plt Gubernur DKI Jakarta yaitu Djarot Saifulah Hidayat. DKI-1 tersebut mengemukakan jika adanya aktivitas sahur di jalanan tersebut berpotensi menimbulkan kerugian yang lebih besar. Beliau mengemukakan jika ingin sahur maka sebaiknya sahur di masjid, Mushola atau sahur di rumah masing-masing. Sahur yang dilaksanakan di tempat yang tepat seperti di masjid, jelas memberikan manfaat dan tidak merugikan orang lain.

Beberapa hal tentang sahur on the road, yaitu:

  • Meninggalkan jejak yang berupa coretan tidak hanya di tembok namun juga di jalanan dan hal tersebut bisa mengganggu pemandangan kota dan merugikan orang lain terutama orang yang tembok rumah atau tokonya di coret karena aksi vandalisme tersebut.
  • Sering kebut-kebutan atau memainkan gas dengan motor yang menggunakan knalpot yang tidak sesuai standar. Hal tersebut menyebabkan polusi suara dan juga mengganggu orang lain yang ada di sekitar tempat kejadian.

Baca: Perusahaan Besar di Indonesia yang Menawarkan Gaji Tinggi

  • Menyebabkan polusi udara karena konvoi yang sering dilakukan oleh komunitas atau kelompok tertentu yang sering kebut-kebutan ataupun berkeliling di saat sahur.
  • Rawan terjadi kecelakaan dan tawuran. Hal tersebut disebabkan saat sahur di jalanan tersebut tidak jarang yang akan bertemu dengan kelompok lainnya yang juga melakukan hal yang sama dan cek-cok bisa saja terjadi. Jika tidak memiliki pengendalian diri yang baik akan menimbulkan keributan yang bisa berujung pada tawuran yang bisa merugikan orang lain.

Menurut Djarot, pelarangan dilakukannya sahur dengan cara membagikan makanan ke orang lain seperti tunawisma ini berpotensi ditunggangi geng motor. Seperti yang diketahui, saat ini marak kelakuan geng motor yang merugikan masyarakat seperti mengganggu pengendara motor dan pengguna jalan yang lain bahkan tidak jarang diantaranya menyakiti pengguna jalan tersebut dengan alasan iseng atau untuk merebut kendaraan yang dimiliki oleh orang tersebut.

Tidak hanya di Jakarta yang melarang dilaksanakan sahur di jalanan tersebut namun di Bogor. Menurut AKBP Andy M Dicky yang menjadi Kapolres Bogor mengemukakan jika kegiatan sahur tersebut yang dilaksanakan oleh komunitas ataupun pelajar sekolah cenderung bersifat negatif. Para remaja tersebut berkeliling di tengah malam menggunakan sepeda motor yang menyebabkan warga terjadi gesekan dengan kelompok lainnya sehingga berujung pada tawuran. Untuk mengatasi hal tersebut, maka aktivitas tersebut dilarang dan lebih diarahkan untuk mengisi kegiatan Ramadhan dengan sahur di yayasan yatim piatu, di masjid atau di mushola sehingga bisa shalat subuh berjama’ah.

Di Jakarta, sesuai dengan instruksi dari Plt Gubernur DKI Jakarta yaitu jika ada yang berani dan nekat untuk melakukan sahur on the road akan langsung ditertibkan oleh pihak kepolisian. Polisi akan langsung menerbitkan dan mengecek kepemilikan surat dan pengaman seperti helm apakah dikenakan oleh pengendara atau peserta dari SOTR tersebut atau tidak. Selain pelarangan SOTR, kepolisian juga melarang adanya aktivitas sweeping yang dilakukan oleh ormas misalnya sweeping yang terjadi di tempat hiburan malam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *